Kabar mengejutkan datang dari Singapura. Warung Nasi Padang tertua yang telah melayani pelanggan selama lebih dari enam dekade dikabarkan akan tutup permanen besok. Keputusan ini memicu gelombang emosi di kalangan warga lokal dan komunitas Minang perantauan, hingga menarik perhatian pemerintah setempat. Bahkan, seorang menteri dilaporkan turun tangan langsung untuk mencari solusi agar warisan kuliner ini tidak hilang begitu saja.
Warung legendaris tersebut, yang berlokasi di kawasan Little India, dikenal bukan hanya karena cita rasa rendang dan gulainya yang autentik, tetapi juga sebagai simbol ketahanan budaya diaspora Minang di tengah arus modernisasi Singapura. Pemilik warung, Pak Harun (78), mengungkapkan bahwa keputusan menutup usaha diambil karena tekanan biaya operasional yang terus meningkat serta sulitnya menemukan generasi penerus yang mau melanjutkan bisnis keluarga.
Respons cepat dari Kementerian Kebudayaan dan Komunitas Singapura menunjukkan betapa pentingnya warung ini sebagai bagian dari identitas multikultural negara tersebut. Rencana penyelamatan sedang digodok, termasuk kemungkinan memberikan insentif finansial atau membantu alih kelola ke tangan pengusaha muda yang peduli pada pelestarian kuliner tradisional.
Penutupan warung ini menjadi pengingat bahwa warisan budaya tak selalu bertahan hanya dengan nostalgia—ia butuh dukungan nyata. Di tengah ketidakpastian ini, banyak warga berbondong-bondong datang untuk menikmati seporsi terakhir nasi padang dengan lauk favorit mereka. Bagi yang ingin merasakan sensasi kuliner seru lainnya, kunjungi Indobet untuk pengalaman hiburan digital yang tak kalah menggugah selera.